2. uji kelarutan dan pengendapan protein
LAPORAN
PRAKTIKUM BIOKIMIA
Disusun
oleh:
Nama : Haggai Nainggolan
NPM : E1G016052
Prodi : Teknologi Industri
Pertanian
Kelompok : Empat (4)
Hari/tanggal : Senin/ 16 Oktober 2017
Co-Ass : Elfredi Syahputra
Sembiring
Hayuning Pratiwi
Dosen :
Drs. Syafnil., M.Si
Dra. Devi Silsia., M.Si
Objek
Praktikum : UJI KELARUTAN DAN
PENGENDAPAN PROTEIN
LABORATORIUM
TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Protein merupakan polipeptida alami yang
memiliki kira-kira 100 sampai 1800 atau lebih residu asam amino. Protein
alamiah memiliki 20 jenis asam amino. Berat molekul-molekul pada protein sangat
besar, ribuan sampai jutaan, sehingga merupakan suatu makromolekul. Seperti
senyawa polimer lain, protein dapat dihidrolisisoleh asam, basa atau enzim dan
menghasilkan asam-asam amino.
Berdasarkan struktur molekulnya, protein dapat
dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu:
1.
Protein
globular; yaitu protein yang berbentuk bulat atau elips dengan rantai
polipeptida yang berlipat. Umumnya protein globular larut dalam air, asam,
basa, atau etanol. Contoh: albumin, globulin, protoamin, semua enzim dan
antibody.
2.
Protein
fiber; yaitu ptrotein yang berbentuk serat atau serabut dengan rantai
polipeptida yang memanjang pada satu sumbu. Hamper semua sumbu protein fiber
memberikan peran struktural ataua pelindung. Protein fiber tidak larut dalam
air, asam, basa, maupun etanol. Contoh keratin rambut, kolagen pada tulang
rawan, dan fibroin pada sutera.
Sifat fisiko kimia protein berbeda satu sama lain,
tergantung padda komposisi dan jenis asam amino penyusunnya. Sebagian besar
protein bila dilarutkan dalam air akam membentuk disperse koloidal dan tidak
dapat berdifusi bila dilewatkann melalui membrane semipermiabel. Protein
bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam maupun basa.
Sebagian ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein
tidak dapat larut dalam pelarut organic seperti, eter, kloroform, atau benzene.
Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolu, maka protein akan
menggumpal (terakogulasi). Hsl ini disebabkan etanol menarik mantel air yang
melingkupi molekul-molekul protein.
Pada umumnya protein sangat peka
terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan kimia. Sehingga mudah mengalami perubahan
bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur protein tersebur disebut
denturasi. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya denaturasi adalah panas, pH,
tekanan, aliran listrik dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol atau
sabun. Proses denaturasi berlangsung secara reversible dan juga ireversibel
tergantung pada penyebabnya.
Sebagian
besar prtein dapat diendapkan dengan penambahan asam-asam organic seperti asam
pikrat, assam triklorosetat dan asam sulfosalisilat. Penambahan asam-asam
menyebabkan terbentuknya garam proteinat yang tidak larut. Protein dapat pula
mengalami denaturasi irreversible dengan adanya logam-logam berat seperti Cu+2,
Hg+2, atau Pb+2, sehingga mudah mengendap.
1.2 Tujuan praktikum
1. Mengetahui daya larut
protein terhadap pelarut tertentu.
2. Mengetahui pengaruh
larutan garam konsentrasi tinggi terhadap sifat kelarutan protein.
3. Mengetahui pengaruh
logam berat dan asam organik terhadap sifat kelarutan protein.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Protein merupakan makromolekul yang paling melimpah di dalam
sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada semua organisme. Sebagai
makro molekul, protein merupakan senyawa organik yang mempunyai berat molekul
tinggi dan berkisar antara beberapa ribu sampai jutaan dan tersusun dari C, H,
O dan N serta unsur lainnya seperti S yang membentuk asam-asam amino. Semua
protein pada semua makhluk, dibangun oleh oleh susunan dasar yang sama, yaitu
20 macam asam amino baku yang molekulnya sendiri tidak mempunyai aktivitas
biologis sedang protein sebagai enzim dan hormon mempunyai fungsi khusus.
Disamping itu protein dapat berfungsi sebagai pembangun struktur, sumber
energi, penyangga racun, pengatur pH dan bahkan sebagai pembawa sifat turunan
dari generasi ke generasi (Patong, dkk., 2012).
Dalam kehidupan
protein memegang peranan yang penting pula. Proses kimia dalam tubuh dapat
berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein berfungsi sebagai
biokatalis. Di samping itu, hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau
eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang
berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu
protein (Kuchel dan Ralston 2006).
Protein adalah suatu senyawa organik
yang mempunyai berat molekul besar antara ribuan hingga jutaan satuan(g/mol).
Protein tersusun dari atom-atom C,H,O dan N ditambah beberapa unsur lainnya
seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit asam amino. Urutan asam
amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan yang lain,
menentukan sifat biologis suatu protein. (Sabiston, 1987). Protein merupakan
senyawa kimia yang sangat kompleks. Pada sel hidup, protein mempunyai dua peran
utama, yaitu peran katalitik dan mekanik. Peran katalitik ditunjukkan oleh
enzim, sedangkan peran mekanik ditunjukkan oleh protein otot (Pratiwi, 2007).
Sifat-sifat protein berbeda-beda saat
berhidrolisis dengan air, beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa
perlakuan lainya. Kelarutan protein akan berkurang bila kedalaman larutan
protein ditambahkan garam-garam anorganik. Pengendapan terus terjadi karena
kemampuan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam
anorganik dengan molekul protein untuk menngikat air. Garam anorganik lebih
menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang
(Hamdan. 2007).
Seperti asam amino, protein yang larut
dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negatif. Dalam
suasana asam molekul protein akan membentuk ion positif, sedangkan dalam
suasana basa akan membentuk ion negatif. Pada titik isolistrik protein
mempunyai muatan positif dan negatif yang sama, sehingga tidak bergerak ke arah
elektroda positif maupun negatif apabila ditempatkan di antara kedua elektroda
tersebut (Poedjiadi, 2009).
Pada umumnya, protein sangat peka terhadap
pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga mudah mengalami perubahan
bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein disebut
denaturasi. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya denaturasi adalah panas,
pH, tekanan, aliran listrik dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol, atau
sabun. Proses denaturasi kadang berlangsung secara reversible, tetapi ada pula
yang irreversible, tergantung penyebabnya. Protein yang mengalami denaturasi
akan menurunkan aktifitas biologis dan berkurangnya kelarutannya, sehingga
mudah mengendap (Sirajuddin, 2009).
Viskositas adalah tahanan yang timbil oleh
adanya gesekan antara molekul-molekul di dalam zat cair yang mengalir. Suatu
larutan protein dalam air mempunyai viskositas atau kekentalan yang relatif
besar daripada air sebagai pelarut. Pada umumnya viskositas suatu larutan tidak
ditentukan atau diukur secara absolut, tetapi ditentukan viskositas relatif,
yaitu dibandingkan terhadap viskositas zat cair tertentu. Viskositas larutan
protein tergantung pada jenis protein, bentuk molekul, konsentrasi
serta suhu larutan. Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi dan
berbanding terbalik dengan suhu (Poedjiadi, 2009).
Protein dapat diendapkan dengan
pennambahan alkohol. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta
dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena
alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Effendi 2003).
BAB
III
METODOLOGI
1.1 Alat
dan bahan
Alat:
v Tabung
reaksi
v Rak
tabung reaksi
v Pipet
ukur
v Pipet
tetes
Bahan:
v Larutan
NaOH 40 %
v Larutan
HCl 10 %
v Larutan
MgSO4 5%
v Aquades
v Larutan
( NH4)2SO4 jenuh
v Larutan
HgCl2 5 %
v Larutan
CuSO4 5 %
v Larutan
CaCl 5 %
v Larutan
Pb-asetat 5 %
v Larutan
NaCl 5 %
v Larutan
BaCl2 5 %
v Albumin
telur
1.2 . Cara kerja
A. Uji
Kelarutan Protein
1. Menyediakan
5 tabung reaksi, masing-masing di isi dengan: aquades, HCl 10%, NaOH 40% dan
alkohol 96% sebanyak 1ml.
2. Menambahkan
2 ml larutan albumin telur pada setiap tabung reaksi.
3. Mengkocok
dengan kuat, kemudian mengamati sifat kelarutannya.
B. Uji
Pengendapan Protein Dengan Garam
1. Menyediakan
5 buah tabung reaksi, masing-masing di isi dengan 2 ml albumin telur.
2. Pada
tabung 1,2,3,4, dan 5 berturut-turut menambahkan larutan NaCl 5% dan BaCl2
5%, CaCl2 5% dan (NH4)2SO4 jenuh
setetes demi setetes sampai timbul endapan.
3. Selanjutnya
menambahkan kembali larutan-larutan garam secara berlebihan.
4. Mengocok
tabung reaksi tersebut, kemudian Mengamati perubahan yang terjadi.
C. Uji
Endapan Protein Dengan Logam Dan Asam Organik
1. Menyediakan
5 buah tabung reaksi, masing-masing di isi dengan 2 ml albumin telur.
2. Pada
tabung 1,2,3,4, dan 5 berturut-turut menambahkan 10 tetes larutan CuSO4
5%, HgCl2 5% dan Pb-Asetat 5%
3. Mengocok
setiap tabung dan mengamati perubahan yang terjadi.
D. Denaturasi
1. Menuangkan
3 ml albumin telur ke dalam tabung reaksi.
2. Memanaskan
sampai mendidih selama beberapa menit dengan api kecil
3. Mengamati
apa yang terjadi
BAB
IV
HASIL
PENGAMATAN
A.
Uji Kelarutan Protein
|
Bahan
|
Tabung 1
|
Tabung 2
|
Tabung 3
|
Tabung 4
|
Tabung 5
|
|
Albumin telur
|
2 ml
|
2ml
|
2ml
|
2ml
|
2ml
|
|
Aquades
|
1 ml
|
|
|
|
|
|
HCl 10%
|
|
1ml
|
|
|
|
|
NaOH 40%
|
|
|
1ml
|
|
|
|
Alkohol 96%
|
|
|
|
1ml
|
|
|
Kloroform
|
|
|
|
|
1ml
|
|
Kocok tabung reaksi dengan kuat
|
|||||
|
Hasil:Larut/tidak
larut
|
Larut
|
Larut
|
Larut
|
Larut
|
-
|
B.
Uji Pengendapan Protein dengan Garam
|
Bahan
|
Tabung 1
|
Tabung 2
|
Tabung 3
|
Tabung 4
|
Tabung
5
|
|||||
|
Albumin telur
|
2 ml
|
2 ml
|
2ml
|
2ml
|
|
|||||
|
NaCl 5%
|
Berlebih
|
|
|
|
|
|||||
|
BaCl2 5%
|
|
Berlebih
|
|
|
|
|||||
|
CaCl2 5%MgSO4 5%
|
|
|
Berlebih
|
|
|
|||||
|
MgSO4 5%
|
|
|
|
Berlebih
|
|
|||||
|
(NH4)2SO4 jenuh
|
|
|
|
|
Berlebih
|
|||||
|
Kocok tabung reaksi dengan
kuat
|
||||||||||
|
Hasil: endapan banyak/sedikit
|
Ada endapan sedikit
|
Ada endapan sedikit
|
Tidak ada endapan
|
Ada endapan banyak
|
-
|
|||||
C.
Uji Pengendapan Protein Dengan Logam Dan Asam Organik
|
Bahan
|
Tabung 1
|
Tabung 2
|
Tabung 3
|
|
|
|
|
Albumin
telur
|
2ml
|
2ml
|
2ml
|
|
|
|
|
TCA 10%
|
10 tetes
|
|
|
|
|
|
|
As.Sulfosalisilat
|
|
10 tetes
|
|
|
|
|
|
CuSO4
5%
HgCl2
5%
|
|
|
10 tetes
|
|
|
|
|
MgSO4
5%
|
|
|
|
10 tetes
|
|
|
|
(NH4)2SO4
jenuh
|
|
|
|
|
10 tetes
|
|
|
Kocok tabung reaksi dengan kuat
|
||||||
|
Hasil:
endapan
banyak/sedikit
|
|
Ada endapan
|
Tidak
ada endapan
|
Tidak
ada endapan
|
Ada endapan
|
|
D. Denaturasi Protein
|
Bahan Uji dan Perlakuan
|
Pengamatan
|
|
Albumin
Telur dipanaskan
|
Terdapat
gumpalan berwarna putih
|
BAB
V
PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama
yaitu uji kelarutan protein dengan menyediakan 5 tabung reaksi dimana
masing-masing diisi dengan aquades, HCl 10 %, NaOH 40 %, alkohol 96 % dan
kloroform sebanyak 1 ml. Setelah dilakukan pemasukan bahan pada setiap tabung
reaksi, kami menambahkan 2 ml larutan albumin
telur pada setiap reaksi kemudian kami mengkocok dengan kuat supaya
dapat mengamati sifat kelarutannya. Hasil yang kami dapatkan yaitu sifat
kelarutan pada bahan aquades adalah larut, sifat kelarutan pada NaOH 40 %
adalah larut, sifat kelarutan pada alkohol 96 % adalah larut dengan sedikit
endapan, dan sifat kelarutan pada kloroform adalah larut. Berdasarkan hasil
percobaan yang kami dapatkan, ini sesuai dengan literatur, dan protein ini
termasuk golongan protein globular.
Pada percobaan kedua
yaitu uji pengendapan protein dengan garam kami terlebih dahulu menyediakan 5
tabung reaksi dimana masing-masing diisi dengan 2 ml albumin telur. Pada setiap
tabung secara berturut-turut, kami menambahkan setetes demi setetes pada
larutan sampai timbul endapan pada larutan NaCl 5 %, BaCl2 5 %, CaCl2
5 %, MgSO4 5 % dan (NH4)2SO4 jenuh.
Kemudian pada semua tabung reaksi ditambahkan larutan-larutan garam secara
berlebihan serta dilakukan pengocokan pada ke-empat tabung rekasi supaya dapat
mengamati perubahan yang terjadi. Pada
larutan NaCl 5 % ada sedikit endapan, pada larutan BaCl2 5 % ada
endapan sedikit, pada CaCl 5 % ada sedikit endapan, , pada MgSO4 5 %
ada endapan banyak dan (NH4)2SO4 jenuh didapat
ada endapan walaupun dengan jumlah yang sedikit.
Pada percobaan ketiga
yaitu uji pengendapan protein dengan logam dan asam organik dengan mengediakan
5 tabung reaksi dimana pada masing-masing tabung reaksi diisi dengan 2 ml
albumin telur. Pada setiap tabung secara berturut-turut, praktikan menambahkan
10 tetes larutan asam trikloroasetat 10 %, asam sulfosalisilat 5 %, HgCl2
5 % dan Pb-asetat 5 % tetapi pada bahan asam trikloroasetat 10 % (TCA 10 %) dan
asam sulfosalisilat 5 % tidak ada/tersedia sehingga praktikan hanya melakukan
pengujian pada 3 bahan pada 3 tabung reaksi. Pada sulfosilat terdapat
endapan, pada CuSO4 5% tidak
terdapat endapan, pada HgCl2 5% tidak ada endapan dan pada
Pb-asetat 5% terdapat endapan.
Pada percobaan yang
terakhir yaitu denaturasi protein dengan menuangkan 3 ml albumin telur ke dalam
tabung reaksi dan praktikan memanaskan dengan api kecil larutan yang terdapat pada tabung reaksi
tersebut sehingga albumin telur menggumpal atau yang biasa disebut denaturasi
protein. Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya
perubahan struktur protein yang mencakup perubahan bentuk dan lipatan
molekul, tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino
dan struktur primer protein. Endapan
putih yang terbentuk mengindikasikan terjadinya denaturasi protein. Sehingga
denaturasi ini dapat merusak keseimbangan switer ion kekondisi asam di
bawah titik isoelektrik. Perubahan struktur yang diakibatkan proses denaturasi
adalah perubahan konfigurasi protein α-heliks menjadi memanjang. Hal ini
disebabkan karena rusaknya ikatan hydrogen dan ikatan nonpolar yang terjadi
pada struktur berlipat dari protein.
BAB
VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.
Protein albumin dapat larut dalam pelarut seperti aquades, HC 10%, NaOh 40%,
dan Alkohol 90%.
2.
Pengaruh larutan garam konsentrasi tinggi terhadap sifat kelarutan protein
menimbulkan adanya endapan dalam larutan.
3.
Pengaruh logam berat dan asam organic terhadap sifat kelarutan protein
menimbulkan adanya endapan dalam larutan Asam sulfosalisilat dan pb-asetat 5%
sedangkan pada CusSO4 5% dan HgCl2 5% tidak terdapat
endapan.
6.2 Saran
Ketika melakukan pengamatan
hendaknya setiap kelompok melakukan percobaan masing-masing supaya praktikan
lebih memahami pengamatan tersebut.
JAWABAN
PERTANYAAN
1.
Jelaskan
mengapa dengan penanmbahan garam berkonsentrasi tinggi kelarutan protein
menjadi berkurang , sehingga dapat mengendap !
Jawab
: Bila
garam netral yang ditambahkan garam berkonsentrasi tinggi, maka protein akan
mengendap. Pengendapan ini terjadi karena kemampuan ion garam untuk
menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul
protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka
jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang .
2.
Pada
percobaan manakah garamnya lebih efektif untuk mengendap protein ? mengapa ?
Jawab : Larutan
yang paling banyak atau lebih efektif adalah pada tabung 5 dengan menggunkan
(NH4)2SO4 . Larutan albumin dalam air dapat
diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4)
hingga jenuh. Setelah larutan albumin dijenuhkan dengan (NH4)2SO4,
uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif
(endapan larut membentuk butiran yang banyak ) .
3.
Jelaskan
mengapa susu atau putih telur dapat digunakan sebagai antidotun pada keracunan
logam-logam berat ?
Jawab
: Garam
logam berat dapat mendenaturasi protein sama seperti asam atau basa . karena
garam itu ionik , maka dapat merusak jembatan garam pada protein . reaksi
antara logam berat dan protein biasanya menghasilkan garam dari protein dan
logam berat tersebut yaitu yang tidak larut.
Reaksi yang sama digunakan sebagi prinsip
antidotun dari kasus keracunan mungkin telah menelan logam berat denganjumlah
cukup banyak. sebagai antidotun dapat digunakan protein sebagai susu ataupun
putih telur sehingga terjadi pengendapan garam yang beracun . lalu diberikan
emetik untuk menginduksi muntah agar endapan logam protein tersebut dapat dikeluarkan
dari tubuh.
DAFTAR
PUSTAKA

Comments
Post a Comment