7. uji aktivitas enzim


LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Disusun oleh:
Nama                           : Haggai Nainggolan
NPM                           : E1G016052
Prodi                           : Teknologi Industri Pertanian
Kelompok                   : Empat (4)
Hari/tanggal                : Senin/ 13 November 2017
Dosen                          : Drs. Syafnil., M.Si
                                      Dra. Devi Silsia., M.Si
Co-Ass                        : Elfredi Syahputra Sembiring
                                       Hayuning Pratiwi
Objek Praktikum         : UJI AKTIVITAS ENZIM




LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Enzim merupakan senyawa berstruktru protein yang dapat berfungsi katalisator dan dikenal sebagai biokatalisator. Enzim berperan sebagai katalisator yang mengkatalisis reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam system biologis. Enzim dapat mengakatalisis sebuah reaksi yang secara reaksi kimia biasa tiddak mungkin terjadi dan seperti halnya katalisator biasa, enzim juga tidak ikut bereaksi atau pun terurai menjadi produk reaksi.
            Enzim dapat diperoleh dari sel-sel hidup dan dapat bekerja baik untuk reaksi-reaksi yang terjadi di dalam sel maupun di luar sel. Pemanfaatan enzim untuk reaksi-reaksi yang terjadi di luar sel sekarang banyak diaplikasikan dalam dunia industri seperti industry makanan, detergent, penyamakan kulit, kosmetik, dan lain-lain. Pemanfaatan enzim dapat dilakukan secara langsung menggunakan enzim hasil isolasi maupun dengan cara pemanfaatan mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim yang diinginkan.
            Enzim dapat diperoleh dari makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan selain itu sumber enzim yang saat ini sangat dikenal dan banyak dimanfaatkan adalah mikroorganisme. Beberapa contoh enzim seperti bromelin sebagai protease bersumber dari tumbuhan yaitu nanas, papain sebagai protease dari papaya, lisozim dari putih telur dan sebagainya. Meskipun banyak sumber enzim yang berasal dari hewan dan tumbuhan, namun sekarang pemanfaatan mikroorganisme sebagai sumber enzim lebih banyak diminati karena beberapa alas an. Adapun alasan-alasan tersebut antara lain, bahwa enzim dari mikroorganisme bias dihasilkan dalam waktu yang sangat singkat bahkam dalam hitungan jam, proses produksinya bias dikontrol, kemungkinan terkontaminasi oleh senyawa-senyawa lain lebih kecil, area produksi tidak harus luas, dan lain sebagainya. Berbagai macam enzim yang digunakan secara komersial berasal dari jaringan tumbuhan, hewan dan mikroorganisme yang terseleksi. Beberapa contoh enzim yang berasal dari hewan antara lain tripsin, rennet, lipase, dan kemotripsin. Selain dari hewan ada beberapa contoh yang bersumber dari tumbuhan seperti aktinidin, alfa amylase, beta amilase, bromelin, dan papain.
            Enzim sebagai suatu senyawa yang berstruktur protein baik murni maupun tergabung dengan gugusan-gugusan kimiawi lainnya memiliki sifat yang sama dengan protein lain yaitu dapat terdenaturasioleh panas, terendapkan oleh senyawa-senyawa organik cair seperti ethanol dan aseton juga oleh garam-garam organic berkonsentrasi tinggi seperti ammonium sulfat, dan memiliki bobot molekul yang relatif besar sehingga tidak dapat melewati membrane semipermiabel.
            Enzim dalam kerjanya sebagai katalis biasanya memiliki kespesifikan, yaitu bahwa enzim hanya bekerja untuk substrat yang khusus, namun demikian ada juga yang bekerja pada bermacam-macam substrat. Enzim sebagai biokatalisator berstruktur protein dalam mekanisme kerjanya aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu anatara lain, pH, suhu, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, kehadiran inhiubitor.
            Enzim diklasifikasikan berdasarkan tipe reaksi dan mekanisme reaksi yang dikatalisis. Pada awalnya hanya ada beberapa enzim yang dikenal, dan kebanyakan mengakatalisis reaksi hidrolisis ikatan kovalen.semua enzim ini diidentifikasi dengan menambahkan akhiran –ase pada nama substrat yang dihidrolisis. Contoh lipase  menghidrolisis lipid, amylase menghidrolisis amilum, protease menghidrolisis protein. Pemakaian penamaan tersebut terbukti tidak memadai karena banyak enzim yang mengkatalisis substrat yang sama tetapi dengan reaksi yang berbeda. Contohnya ada enzim yang mengaktalisis reaksi reduksi terhadap fumgsi alkohol gula dan ada pula yang mengkatalisis reaksi oksidasi pada substrat yang sama.
           
1.2 Tujuan Percobaan
1.      Mengetahui pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim.
2.      Membuktikan bahwa derajat keasaman (pH) mempengaruhi aktivitas enzim.
3.      Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim.
4.      Mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivita


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Bekerja dengan urutan-urutan yang teratur, enzim mengkatalisis ratusan reaksi bertahap yang menguraikan molekul nutrient, reaksi yang menyimpan dan mengubah energi kimiawi dan yang membuat makromolekul sel dari prekursor sederhana.Di antara sejumlah enzim yang berpartisi di dalam metabolisme terdapat sekelompok khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur yang dapat mengenali berbagai isyarat metabolik dan mengubah kecepatan katalitiknya sesuai dengan isyarat yang diterima. Melalui aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik, menghasilkan suatu hubungan yang harmonis di antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda, yang diperlukan untuk menunjuang kehidupan (Lehninger, 1982).
Enzim adalah protein yang berperan sebagai katalis dalam metabolisme makhluk hidup. Enzim berperan untuk mempercepat reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup tetapi enzim itu sendiri tidak ikut bereaksi. Enzim berperan secara lebih spesifik dalam hal menentukan reaksi mana yang akan dipacu dibandingkan dengan katalisator anorganik sehingga ribuan reaksi dapat berlangsung dengan tidak menghasilkan produk sampingan yang beracun. Enzim terdiri dari apoenzim dan gugus prostetik. Apoenzim adalah bagian enzim yang tersusun atas protein. Gugus prostetik adalah bagian enzim yang tidak tersusun atas protein. Gugus prostetik dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu koenzim (tersusun dari bahan organik) dan kofaktor (tersusun dari bahan anorganik). Enzim mempunyai sifat biokatalisator, mempercepat jalannya reaksi tanpa ikut bereaksi (Soewoto, 2000).
Enzim adalah substansi dengan dasar protein yang terdapat pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Enzim membantu proses metabolisme tubuh yang memungkinkan proses kehidupan dapat berjalan. Enzim ini merupakan bagian integral dari proses metabolisme tubuh. Enzim berguna untuk memecah makanan menjadi bagian yang lebih kecil(Lehninger, 1982).
Di dalam jumlah sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan hasil akhir reaksinya. Di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Artinya suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat, adapula yang hanya satu substrat saja, dan ada pula yang bersifat stereospesifik. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam sistim biologis, maka enzim juga disebut sebagai Biokatalisator(Rismijana, 2003).
Dalam menjalankan aktifitasnya enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengaruh aktivator, inhibitor, koenzim dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan. Oleh sebab itu pada percobaan ini akan dilihat sampai sejauh mana pengaruh perubahan suhu, penambahan substrat, dan pengaruh perubahan pH terhadap kinerja atau aktivitas dari enzim(Poernomo, 2003).
Enzim dikatakan aktif apabila zat tersebut mempunyai kemampuan untuk melaksanakan aktivitas katalitiknya. Telah dilaporkan oleh Fogarty dan Kelly (1979) bahwa enzim proteolitik bakteri, yeast ataupun fungi mempunyai karakter dan spesifisitas yang berbeda. Karakter enzim proteolitik tersebut ditunjukan dengan pH dan suhu optimum enzim tersebut dalam menghidrolisis substratnya. Selain itu adanya ion logam, asam amino tertentu dan inhibitor enzim akan mempengaruhi aktivitas enzim tersebut (Poernomo, 2003).














BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat yang digunakan :
            Tabung reaksi
            Penjepit tabung reaksi
            Rak tabung reaksi
            Pipet ukur
            Gelas kimia
            Spiritus
3.1.2 Bahan yang digunakan ;
            Larutan amilum 2%
            Enzim amylase (saliva)
            Larutan iodium
            Pereaksi Benedict
            Larutan HCl 0,4%, pH=1

3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
1.      Menyediakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian mengisi tabung 1 dengan 2 ml larutan HCl 0,4%, tabung ke 2 dengan 2 ml aquadest, tabung ke 3 dengan 2 ml Na2CO3 1%.
2.      Menambahkan 2 ml larutan amilum dan 1 ml enzim ke dalam setiap tabung reaksi.
3.      Mencampurkan sampai homogen, kemudian membiarkan selama 15 menit.
4.      Melanjutkan uji dengan larutan iodium dan pereaksi Benedict.
5.      Mengamati dan mencatat perubahan warna yang terjadi.


3.2.2 Pengaruh Konsentrasi Enzim terhadap Aktivitas Enzim
1.      Menyiapkan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian pada tabung 1, 2 dan 3 berturut-turut mengisi dengan enzim amylase 0,5 ml, 1,0 ml dan 1,5 ml.
2.      Menambahkan larutan amilum 2 ml ke dalam tiap-tiap tabung.
3.      Mencampur dengan baik, kemudian membiarkan selama 15 menit.
4.      Melanjutkan uji dengan larutan iodium dan pereaksi Benedict.
5.      Mengamati dan mencatat perubahan warna yang terjadi.
3.2.3 Pengaruh Konsentrasi Substrat terhadap Aktivitas Enzim
1.      Menyiapkan 4 tabung reaksi yang bersih, kemudian mengisi berturut-turut dengan larutan amilum 1 ml, 2 ml, 4 ml dan 6 ml.
2.      Menambahkan enzim amilase 1 ml ke dalam tiap-tiap tabung.
3.      Mencampurkan dengan baik, kemudian membiarkan selama 15 menit.
4.      Melanjutkan uji dengan larutan iodium dan pereaksi Benedict.
5.      Mengamati dan mencatat perubahan warna yang terjadi.















BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Enzim
No
Tabung
Suhu
(o)
Perubahanwarna
Uji Iodium
Uji Benedict
1
0
-
-
2
25-30
Awalnya enzim kental dan berwarna putih menjadi coklat kental
Awalnya kentl putih menjadi kental berwarna biru
3
37-40
Awalnya kental putih berubah menjadi coklat kental
Awalnya kentl putih menjadi kental berwarna biru muda
4
75-80
Kental dan berwarna putih berubah menjadi cokalt kental
Awalnya kentl putih keruh menjadi kental berwarna biru
5
100
Enzim cair putih menjadi hijau lumut
Cair berwarna putih menjadi biru muda dan cair
4.1.2 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
No
Tabung
pH
Perubahanwarna
Uji Iodium
Uji Benedict
1
1
Hitam
Biru muda dan terdapat gumpalan yang mengambang di dalamlarutan
2
7
Kuning pekat
Biru muda tanpa endapan
3
9
Kuning teh
Biru muda tanpa endapan
4.1.3 Pengaruh Konsentrasi Enzim terhadap Aktivitas Enzim
No
Tabung
Konsentrasi
Substrat
Konsentrasi
Enzim
Perubahanwarna
Uji Iodium
Uji Benedict
1
Amilum
2ml
Amylase 0,5 ml
Kuning teh tidak berbusa
Biru dan tidak terrdapat gumpalan.
2
Amilum
2ml
Amylase 1ml
Kuning teh dan terdapat sedikit busa
Biru dan terdapat sedikit gumpalan
3
Amilum
2ml
Amilase 1,5 ml
Kuning teh dan dan terdapat busa
Biru dn terdapatt gumpalan
4.1.4 Pengaruh Konsentrasi Substrat terhadap Aktivitas Enzim
No
Tabung
Konsentrasi
Substrat
Konsentrasi
Enzim
Perubahanwarna
UjiIodium
Uji Benedict
1
Amilum
 1ml
Amylase
1ml
Putih keruh menjadi coklat pekat, dan terdapat banyak buih
Putih keruh menjadi biru muda
2
Amilum
2ml
Amylase
1ml
Putih keruh menjadi coklat, berbuih
Putih keruh menjadi biru muda
3
Amilum
4ml
Amylase
1ml
Putih keruh menjadi coklat, berbuih
Putih keruh menjadi biru muda
4
Amilum
6ml
Amylase
1ml
Putih keruh menjadi coklat, berbuih
Putih keruh menjadi biru muda



BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama yaitu menguji pengaruh suhu terhaap aktivitas enzim, kami mendapatkan hasil bahwa pada uji iodium jika suhu semakin tinggi maka warna sampel yang ditimbulkan akan semakin pekat, dan ini membuktikan bahwa enzim tidak dapat bekerja dengan maksimal bahkan dapat rusak pada suhu tinggi. Sedangkan pada uji benedict warna yang ditimbulkan relatif sama yaitu berwarna ungu.
Pada percobaan yang kedua yaitu Pengaruh ph terhadap aktivitas enzim.Dari hasil yang diperoleh bila aktivitas enzim diukur pada pH yang berlainan, yaitu dengan ph 1, pH 7, dan pH 9. Dari hasil data yang kami peroleh dari uji iodium kami mendapatkan hasil bahwa semakin tinggi pH maka warna larutan juga semakin  maka warna yang dihasilkan juga semakin memudar. Dan pada uji benedict warna yang dihasilkan relatif sama yaitu berwarna biru. Jika dilihat dari hasil percobaan, pH juga mempengaruhi kerja enzim. Dan jika dibandingkan dengan literatur yang ada yaitu, sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukan aktivitas optimum antara pH 5,0 - 9,0, kecuali beberapa enzim misalnya pepsin(pH optimum = 2). Ini disebabkan oleh :
1. Pada pH rendah atau tingi, enzim akan mengalami denaturasi.
2. Pada pH rendah atau tinggi, enzim dapat mengalami perubahan.
Muatan listrik dengan akibat perubahan aktivitas enzim.(Lehninger, 1982)
Percobaan yang ketiga yaitu pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim, Dari hasil pengamatan yang diperoleh uji iodium menghasilkan warna kuning teh sedangkan pada uji benedict menghasilkan warna biru muda. Kecepatan reaksi enzim (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim (Enz). Makin besar jumlah enzim makin cepat reaksinya. Dalam reaksinya Enzim akan mengadakan ikatan dengan substrat S dan membentuk kompleks enzim-substrat, Enzim. Enzim S ini akan dipecah menjadi hasil reaksi P dan enzim bebas Enz.
Enz + S  EnzS Enz + P
Enz + S  Enz + P
Makin banyak Enz terbentuk, makin cepat reaksi ini berlangsung. Ini terjadi sampai batas tertentu(Cantarow and Schepartz, 1963).
Pada percobaan yang keempat yaitu pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim. Setelah diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict maka diperoleh, pada uji iodium diperoleh hasil percobaan berubah dari warna putih keruh menjadi coklat, sedangkan hasil uji benedict tidak adanya perubahan warna yang signifikan karena warna tetap biru seperti warna pereaksi benedict. Sedangkan bila keadaan lainya tetap sama, kecepatan reaksi juga akan meningkat sampai suatu batas maksimum(Rismijana, 2003).


BAB VI
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
1.      Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzimbahwa pada suhu rendah yang mendekati titik beku biasanya tidak merusak enzim. Pada suhu dimana enzim masih aktif, kenaikan suhu sebanyak 10OC, menyebabkan keaktifan menjadi 2 kali lebih besar. Pada suhu optimum reaksi berlangsung paling cepat. Bila suhu dinaikan terus, maka jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi.
2.      Pada pH rendah atau tingi, enzim akan mengalami denaturasi, pada pH rendah atau tinggi, enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan.
3.      Kecepatan rekasi enzim (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim (Enz). Makin besar jumlah enzim makin cepat reaksinya.
4.      Bila konsentrasi substrat (S) bertambah, sedangkan keadaan lainya tetap sama, kecepatan reaksi juga akan meningkat sampai suatu batas maksimum.
6.2 Saran
            Sebaiknya pada saat berlangsungnya praktikum Co-assnya lebih memperhatikan lagi para praktikan supaya praktikum berjalan dengan lancar dan tertib.


JAWABAN PERTANYAAN
1.      Jelaskan kegunaan uji iodium dan Benedict dalam percobaan ini.
Jawab :Kegunaan  uji iodium yaitu untuk mengamati perubahan warna yang terjadi pada setiap uji. Sedangkan kegunaan uji Benedict yaitu untuk mengamati dan mengetahui perubahan warna sekaligus mengetahui adanya endapan.
2.      Apakah suhu, dan pH mempengaruhi aktivitas enzim? Mengapa?
Jawab : ya, karena suhu dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi, pada pH rendah atau tingi, enzim akan mengalami denaturasi, pada pH rendah atau tinggi, enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan.
3.      Pada suhu berapa diperoleh aktivitas enzim amilase paling optimal? Mengapa?
Jawab : Pada suhu 37-400C karena pada suhu tersebut enzim suhu optimum enzim.
4.      Pada pH berapa diperoleh aktivitas enzim amilase paling optimal? Mengapa?
Jawab : Aktivitas optimum antara pH 5,0 - 9,0, kecuali beberapa enzim misalnya pepsin(pH optimum = 2).
5.      Pada konsentrasi enzim berapa diperoleh aktivitas enzim amilase paling optimal? Mengapa?
Jawab : Pada konsentrasi 1,5 ml, karena semakin besar jumlah enzim semakin cepat pula reaksinya.
6.      Pada konsentrasi substrat berapa diperoleh aktivitas enzim amilase paling optimal? Mengapa?
Jawab : Pengaruh konsentrasi substrat dapat dilihat dengan terbentuknya endapan setelah penambahan pereaksi benedict. Konsentrasi substrat berbanding lurus dengan kecepatan reaksi sampai batas maksimum yang tetap. Jika melewati batas maksimum penambahan substrat tidak berpengaruh.
7.      Tulis 3 enzim lain yang dapat mengidrolisis karbohidrat, masing-masing dengan sumbernya?
Jawab :
Enzim bromelin, sebagai protease bersumber dari tumbuhan yaitu nanas.
Enzim papain, sebagai protease bersumber dari papaya.
Enzim lisosom bersumber dari putih telur.


DAFTAR PUSTAKA
Cantarow and Schepartz. 1963. Kimia dasar. Surabaya.
Indah, 2004 Kimia Bahan Alam. Jakarta: Depdikbud.
Lehninger, 1982. Biokimia Enzim. Jakarta : Widya Medika.
Poernomo, 2003. Kimia Organik. Terjemahan Suminar Achmad. Jakarta :
Erlangga.
Rismijana, 2003. Biokimia Eksperimen Laboratorium.Jakarta: Widya Medika.
Sadikin, Mohamad. 2002. Biokimia Enzim. Jakarta : Widya Medika.
Soewoto, Hafiz, dkk. 2000. Biokimia Eksperimen Laboratorium.Jakarta: Widya
Medika.

Comments

Popular posts from this blog

3. pemisahan kasein dari susu

5. hidrolisis karbohidrat