5. hidrolisis karbohidrat
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
Disusun oleh:
Nama : Haggai Nainggolan
NPM : E1G016052
Prodi : Teknologi Industri
Pertanian
Kelompok : Empat (4)
Hari/tanggal : Senin/ 30 Oktober 2017
Dosen : Drs. Syafnil., M.Si
Dra. Devi
Silsia., M.Si
Co-Ass : Elfredi Syahputra
Sembiring
Hayuning
Pratiwi
Objek
Praktikum : HIDROLISIS KARBOHIDRAT
LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BENGKULU
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang
berasal dari tebu maupun dari bit. Selain dari tebu dan bit, sukrosa terdapat
pada tumbuhan lain, misalnya dalam buah nanas dan dalam wortel. Dengan
hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa, yaitu
antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada
fruktosa melalui atom oksigen. Kedua atom karbon tersebut adalah atom karbon
yang mempunyai gugus –OH glikosidik atau atom karbon yang merupakan gugus
aldehida pada glukosa dan gugus keton pada fruktosa. Oleh karena itu molekul
sukrosa tidak mempunyai sifat dapat mereduksi ion-ion Cu 2+ atau Ag+ dan juga
tidak membentuk osazon.
Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhidrolisis, menghasilkan glukosa
dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Bennedict dan uji Seliwannof yang sebelum
hidrolisis memberikan hasil negatif akan berubah menjadi positif.
Pati merupakan polisakarida yang terdapat sebagian besar pada tanaman, terutama
golongan umbi seperti kentang dan biji-bijian seperti jagung dan padi. Pati
terbagi menjadi 2 fraksi yang dapat dipisahkan dengan ait panas. Fraksi
terlarut disebut dengan amilosa( ±20% ), dengan struktur makromolekul linier.
Uji iodium akan memberikan warna biru. Sebaliknya fraksi tidak terlarut disebut
amilopektin( ±80% ), dengan struktur bercabang. Penambahan iodium akan
memberikan warna ungu sampai merah pada fraksi ini.
1.2 Tujuan praktikum
1. Mengidentifikasi hasil hidrolisis
sukrosa
2. Mengidentifikasi hasil hidrolisis
amilum ( pati )
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sukrosa merupakan disakarida yang
dapat dipecah lagi menjadi dua molekul monosakrida jika dihidrolisis yaitu
terpecah menjadi glukosa dan fruktosa. Sukrosa oleh HCL dalam keadaan panas
akan terhidrolisis,lalu menghasilkan glukosa. Pada uji Sedangkan pati
merupakan polisakarida yang terdapat
dalam alam tidak larut dalam air dan memberikan warna biru dengan iodium. Hasil
hidrolisis pati/amilum adalah glukosa. Hidrolisis pati akan terjadi pada
pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilodeksterin
yang memberi warna biru dengan iodium, eritrodekstrin yang memberi warna merah
dengan iodium serta berturut-turut akan dibentuk akroodekstrin, maltosa, dan
glukosa yang tidak memberi
warna dengan iodium (Lehninger, 1982).
Pati merupakan cadangan karbohidrat pada tanaman berbentuk
granula-granula tak larut yang tersusun dari dua macam molekul polisakarida
yaitu amilosa dan amilopektin pada umumnya ditemukan pada umbi, akar
dan biji. Gula reduksiterutama dalam bentuk glukosa diperoleh dari hidrolisis
pati oleh enzim amilase yang terdapat
pada kapang Rhizopus. Selain dari pati, glukosa dapat diperoleh dari hidrolisis
isoflavon glikosida oleh kapang Rhizopus (Septiani, 2004).
Pati merupakan polimer dari glukosa
atau maltosa. Unit terkecil dari rantai pati adalah
glukosa yang merupakan hasil fotosintesis di dalam bagian tubuh
tumbuh-tumbuhan yang mengandung klorofil. Pati
tersusun atas ikatan α- D- glikosida. Molekul glukosa
pada pati dan selulosa hanya berbeda
dalam bentuk ikatannya, α dan β, namun sifat-sifat kimia kedua senyawa
ini sangat jauh berbeda. Proses hidrolisis pati
yaitu pengubahan molekul pati menjadi monomernya
atau unit-unit penyusunnya seperti glukosa.
Hidrolisis pati dapat dilakukan dengan bantuan asam atau enzim pada
suhu, pH, dan waktu reaksi tertentu (Ben, E.S, 2007).
Pada hidrolisis pati dengan menggunakan asam
yaitu HCl, larutan pati ditambahkan HCl dan dipanaskan dengan variasi waktu. Larutan asam HCl
menghidrolisis pati melalui proses pemotongan rantai, hasil pemotongannya
adalah campuran dekstrin, maltosa dan glukosa. ), proses hidrolisis menggunakan katalis asam juga
memerlukan suhu yang sangat tinggi agar hidrolisis dapat terjadi. Hidrolisis
pati dengan asam memerlukan suhu tinggi, yaitu 120 - 160 o C. Jadi,
seharusnya semakin lama pemanasan yang dilakukan, atau semakin tinggi suhu
pemanasannya, maka hidrólisis yang terjadi lebih sempurna (Ben, E.S, 2007).
Uji Benedict Uji ini
digunakan untuk pengetesan adanya gula pereduksi. Hasil tes ini memberikan
endapan warna hijau, kuning, atau merah jingga yang memberikan perkiraaan
semikualitatif adanya sejumlah gula yang mereduksi (Sahara, 2009).
Gula pereduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima elektron,
contohnya adalah glukosa dan fruktosa. Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung yang
mengandung gugus aldehida atau keto bebas. Semua monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida (laktosa,maltosa), kecuali sukrosa dan pati (polisakarida), termasuk sebagai gula pereduksi
(Lehninger, 1982).
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat:
1. Tabung reaksi
2. Penjepit tabung reaksi
3. Rak tabung reaksi
4. Pipet ukur
5. Sikat tabung reaksi
6. Alat pemanas
7. Kertas lakmus
Bahan:
1. Larutan sukrosa 1%
2. HCl Pekat
3. Larutan iodium
4. Pereaksi benedict
5. Pereaksi seliwanof
6. Pereaksi barfoed
7. NaOH 0,1
8. HCl 0,1 N
9. Larutan amilum 1%
3.2 Cara kerja
A. Hidrolisis
Sukrosa
1. Memasukan 5 ml sukrosa 1 % ke dalam
tabung reaksi dan menambahkan 5ml HCl pekat.
2. Mencampurkan dengan baik lalu memanaskan
dalam penangas air selama 30 menit.
3. Setelah mendinginkan, menetralkan dengan NaOH 0,1 M.
4. Selanjutnya menguji dengan benedict.
5. Menyimpulkan apa yang dihasilkan dari
hidrolisis sukrosa.
B. Hidrolisis
Pati
1. Memasukan ke dalam tabung reaksi 5 ml
amilum 1% kemudian menambhakan
2,5ml HCl.
2. Mencampurkan
dengan baik, lalu memanaskan dengan penangas air mendidih.
3. Setelah
3 menit menguji dengan iodium dengan mengambil 2
tetes larutan dan menambahkan 2 tetes iodium dalam porselin tetes. Mecatat perubahan warna yang terjadi.
4. Melakukan uji iodium setiap 3 menit
sampai hasil berwarna kuning pucat.
5. Melanjutkan hidrolisis selama 5
menit lagi.
6. Setelah mendinginkan, mengambil 2
ml larutan hasi hidrolisis, lalu menetralkan dengan NaOH 2%. Menguji
dengan kertas lakmus.
7. Kemudian menguji dengan benedict.
8. Menyimpulkan apa yang dihasilkan
dari hidrolisis pati.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A.
Hidrolisis Sukrosa
|
Perlakuan
|
Uji
|
Hasil Uji
|
|
5
ml sukrosa 1%
+ ml
HCl pekat + Pemanasan
30 menit.
|
Benedict
|
Tidak terjadi perubahan warna, tetap bewarna biru
|
Kesimpulan :
Pada uji Benedict menunjukkan bahwa tidak adanya kandungan gula pereaksi.
B. Hidrolisis
Pati
|
Perlakuan
|
Hidrolisis
(menit)
|
Hasil uji Iodium
|
Hasil hidrolisis
|
|
5 ml amilum 1%
+ 2,5 ml HCl 2N
+ pemanasan
|
3
|
Biru keunguan
|
Ada endapan
|
|
6
|
Kuning the
|
Ada endapan
|
|
|
9
|
Kuning teh pekat
|
Ada endapan
|
|
|
12
|
Orange muda
|
Ada endapan
|
|
|
15
|
Orange
|
Ada endapan
|
|
|
18
|
Orange
|
Ada endapan
|
|
|
21
|
Orange
|
Ada endapan
|
Hasil akhir dengan
uji Benedict : Sampel mengalami perubahan warna, hal ini disebabkan Amilum
bukan gula pereduksi.
BAB
V
PEMBAHASAN
a. Hidrolisis
Sukrosa
Pada percobaan hidrolisis sukrosa dimana kami memasukkan 5
ml sukrosa 1% ke
dalam tabung
reaksi dan menambahkan 5 ml HCl
pekat yang kemudian kami mencampurkan dengan baik, setelah itu kami memanaskan dalam
penangas air selamat 30 menit. Setelah dilakukan pemanasan maka larutan
didinginkan, larutan
ini tidak mengalami perubahan warna. Dan ini membuktikan bahwa larutan tersebut sudah
terhidrolisis. Setelah itu, kami menetralkan larutan tersebut dengan NaOH 2%, sehingga larutan tersebut
netral. Dan selanjutnya kami uji dengan benedict, disini kami mendapatkan hasil
larutan tersebut tetap berwarna biru. Menurut Rukmini (2008) mengatakan gula pereduksi adalah gula yang mempunyai
kemampuan untuk mereduksi. Hal ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton
bebas. Senyawa-senyawa yang mengoksidasi atau bersifat reduktor adalah
logam-logam indikator seperti Cu (II). Contoh gula yang termasuk dalam gula
pereduksi adalah glukosa, manosa, fruktosa, laktosa, maltosa dan lain-lain.
Sedangkan yang termasuk dalam gula non reduksi adalah sukrosa.
b. Hidrolisis
Pati
Pada 3 menit pertama, warna yang dihasilkan adalah
biru keunguan, 3 menit kedua berubah warna menjadi kuning teh. Pada 3 menit
ketiga, masih kuning teh, dan menit selanjutnya sampai pada menit yang ke 21
berubah warna menjadi orange. Dari hasil ini kami menyimpulkan bahwa lama
pemanasan mempengaruhi larutan tersebut menjadi terhidrolisis, ini dibuktikan
bahwa warna larutan tersebut semakin lama dipanaskan, warnanya menjadi memudar.
Menurut
Lehninger (1982) hidrolisis pati akan terjadi pada pemanasan dengan
asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk amilodeksterin yang memberi
warna biru dengan iodium, eritrodekstrin yang memberi warna merah dengan iodium
serta berturut-turut akan dibentuk akroodekstrin, maltosa, dan glukosa yang
tidak memberi warna dengan iodium. Pada percobaan ini kami berhasil.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang kami dapatkan dari hasil
percobaan ini adalah:
a.
hasil identifikasi hidrolisisi sukrosa dengan uji benedict tidak mengalami
perubahan warna.
b.
hasil identifikasi hidrolisis pada hidrolisis amilum, jika semakin lama
pemanasan mempengaruhi, sehingga larutan tersebut terhidrolisis menjadi
senyawa-senyawa yang lebih sederhana.
6.2 Saran
Untuk praktikum selanjutnya supaya bahan yang akan digunakan
lebih lengkap lagi supaya semua pengujian yang harus dilakukan dapat dilakukan
semua, sehingga pengambilan kesimpulan lebih mudah dipahami. Selain itu semoga
pada praktikum selanjutnya praktikan dapat lebih tertib dan kondusif agar
praktikum yang dilakukan bisa berjalan dengan lancar, sehingga hasil yang
didapat dari praktikum juga efektif dan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ben, E.S., Zulianis,
dan Halim, A., 2007.
“Studi
Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin
Pati Singkong dengan Fraksinasi Btanol-Air”, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 12, No. 21.
Lehninger, 1982. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Rukmini H.S. dan Nur M.A., 2008. Pengantar
Kimia Buku Panduan Kuliah Biokimia. Jakarta: Buku
Kedoktern EGC.
Septiani
Y., Purwoko T., Pangastuti A. 2004. Kadar Karbohidrat, Lemak, dan Protein pada
Tumbuh-tumbuhan. Surakarta
: Bioteknologi.
JAWABAN PERTANYAAN
1. Apa
kegunaan uji benedict, seliwanof, dan berfoed dalam hidrolisis sukrosa ini? Kegunaan uji Benedict, seliwanof
dan barfoed dalam percobaan hidrolisis sukrosa yaitu :
·
Uji
Benedict dilakukan untuk membuktikan adanya gula pereduksi pada suatu
karbohidrat.
·
Uji Seliwanoff berfungsi untuk membedakan gugus fungsi dari
glukosa. Uji Seliwanoff ini dilakukan untuk membuktikan adanya kentosa
(fruktosa).
·
Uji
Barfoed dilakukan untuk membedakan antara karbohidrat jenis monosakarida dan
disakarida.
2. Bagaimana
cara mengetahui bahwa hidrolisis pati telah sempurna?
Cara mengetahui bahwa hidrolisis pati telah
sempurna adalah jika hasil hidrolisis bereaksi positif dengan direaksikan
dengan pereaksi benedict akan membentuk endapan merah bata.
3. Mengapa
larutan hasil hidrolisis harus dinetralkan terlebih dahulu?
Larutan hasil hidrolisis harus
dinetralkan terlebih dahulu supaya larutan hasil hidrolisis tersebut, pH-nya
sesuai ketika akan diuji dengan pereaksi benedict, supaya menghasilkan hasil
yang positif.

Comments
Post a Comment