4. identifikasi karbohidrat
LAPORAN
PRAKTIKUM BIOKIMIA
Disusun
oleh:
Nama :
Haggai Nainggolan
NPM :
E1G016052
Prodi :
Teknologi Industri Pertanian
Kelompok :
Empat (4)
Hari/tanggal :
Senin/ 30 Oktober 2017
Dosen :
Drs. Syafnil., M.Si
Dra. Devi Silsia., M.Si
Co-Ass :
Elfredi Syahputra Sembiring
Hayuning Pratiwi
Objek Praktikum : IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT
LABORATORIUM
TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida
atau polihidroksida-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini
bila dihidrolisis. Karbohirat mengandung gugus funngsi karbonil dan banyak
hidriksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan un tuk golongan senyawa
yang mempunyai rumus (CH2)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tammpak terterhidrasi
oleh n molekul air. Namun demikian,
terdapat pula karbohidrat yang tidakl memiliki rumus demikian dan ada pula yang
mengandung nitrogen.
Karbohidrat merupakan bahan yang sangat
diperlukan tubuh manusia, hewan dan tmbuhan di samping lemak dan protein.
Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan atau energy yang disimpan dalam
sel. Sebagian besar karbohidrat yang ditemuiksn di alam terdapat sebagai
polisakarida dengan berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi
sebagai bentuk penyimpanan bagimonosakarida, sedangkan yangvlaiin sebagai
penyusun struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat.
Pada tumbuhan, karbohidrat disnitesis dalam
sel berklorofil dengan bantuan sinar matahari. Karbohidrat yang dihasilkan
merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam
akar, batang, dan biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat dalam sel tubuh
disimpan dalam hati dan jaringan otot Dalam bentuk glikogen.
Karbohidrat dapat digolongkan berdasarkan
jumlahmonomer penyusunnya. Ada tiga jenis karbohidrat berdasarkan penggolongn
ini, yaitu monosakarida, Oligossakarida, dan polisakarida.
1.
Monosakarida
Monosakarida
merupakan senyawa karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat
dihidrolisis lagi. Umumnya senyawa ini adalah aldehid dan keton yang mempunyai
2 atau lebihgugus hidroksil. Beberapa molekul karbohidrat ada yang mengandung
unsure nitrogen dan sulfur. Jika gugus karbonil pada ujung rantai monosakarida
adalah turunan aldehida maka monosakarida ini disebut aldosa. Jika gugus
karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan keton maka monosakarida
ini disebut ketosa. Monosakarida yang paling penting adalah glukosa, galaktosa,
dan fruktosa.
2.
Oligosakarida
Oligosakarida
merupakan karbohidrat merupakan karbohidrat yang terbentuk dari 2 sampai 10
monoakarida. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah disakarida, trisakarida,
dan seterusnya. Oligosakarida yang paling umum adalah disakarida. Disakarida
terdiri dari 2 monosakarida yang terikat dengan O-Glikosidik. Tiga senyawa
disakarida utama yang penting dan melimoah ruah di alam yaitu sukrosa, laktosa
dan maltose. Ketiga senyawa ini memiliki rumus molekul (C12H22O11)
tetapi struktur berbeda.
3.
Polisakarida
Karbohidrat
yang tersusun lebih dari sepuluh satuan monosakarida dan dapat berantai lurus
atau bercabang. Polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim tertentu
yang kerjanya spesifik. Hidrolisis sebagian polisakarida menghasilakan
oligosakarida yang dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul
polisakarida. Contoh polisakarida amilum, glikogen, dan selulosa.
Pada umumnya karbohidrat dapat berupa serbuk putih yang
mempunyai sifat sukar larut dalam pelarut non polar, tetapi mudah larut dalam
air. Semua jenis karbohidrat akan merah-ungu bila larutannya dicampur beberapa
tetes larutan α-naftol dalam alkohol dan ditambahkan asam sulfat pekat,
sehingga tidak bercampur. Warna ungu akan tampak pada bidang batas antara kedua
kedua cairan. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kuantitatif adanya
karbohidrat dalam suatu bahan dan dikenal dengan uji molisch.
Monosakarida dan disakarida memiliki rasa manis, sehingga
sering disebut gula. Rasa manis dari gula disebabkan oleh gugus hidroksilnya.
Kebanyakan monosakarida dan disakarida, kecuali sukrosa adalah gula pereduksi.
Sifat mereduksinya disebabkan adanya gugus aldehid atau keton bebas dalam
molekulnya. Sifat mereduksinya disebabkan adanya gugus aldehid atau keton bebas
dalam molekulnya. Larutan gula bereaksi positif dengan pereaksi Fehling,
pereaksi Tollens, maupun benedict. Sebaliknya kebanyakan polisakarida adalah
gula non perduksi.
1.2 Tujuan Percobaan
1.
Mengidentifikasi adanya karbohidrat dalam
suatu bahan.
2.
Membedakan anatara monosakarida
dandisakarida.
3.
Membuktikan adanya polisakarida.
4.
Membuktikan adanya gula pereduksi.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Karbohidrat adalah poli
hidroksi aldehid dan poli hidroksi keton dan meliputi kondensat polimer -
polimernya yang terbentuk. Rumus empiris karbohidrat dapat dituliskan sebagai
berikut : Cm(H2O)n atau (CH2O). Tetapi ada juga
karbohidrat yang mempunyai rumus empiris tidak seperti rumus diatas, yaitu
deoksiribosa, deoksiheksosa dan lain - lain (Sudarmanto,dkk, 2000).
Karbohidrat
merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen.
Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil
energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan
menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi
(pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk
menjalankan berbagai fungsi-fungsinya seperti bernafas, kontraksi jantung dan
otot serta juga untuk menjalankan berbagaI aktivitasfisik seperti berolahraga
atau bekerja (Sirajuddin, 2010).
Semua jenis karbohidrat terdiri atas unsur-unsur
karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Perbandingan antara hydrogen dan
oksigen pada umumnya adalah 2:1 seperti halnya dalam air; oleh karena itu
diberi nama karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum karbohidrat
adalah CnH2nOn. Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa (5-atom karbon),
dan polimernya memegang perana penting dalam ilmu gizi (Almatsier, 2001).
Sifat-sifat karbohidrat Beberapa sifat karbohidrat
antara lain:
1) Mono
dan disakarida memiliki rasa manis yang disebabkan oleh gugus hidroksilnya,
oleh karena itu golongan ini disebut gula.
2) Semua
jenis karbohidrat akan berwarna merah apabila larutannya (dalam air) dicampur
dengan beberapa tetes larutan α-naftol (dalam alcohol) dan kemudian dialirkan pada
asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur. Sifat ini dipakai
sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat (uji Molisch).
3) Warna
biru kehijauan akan timbul apabila larutan karbohidrat dicampur dengan asam
sulfat pekat dan anthroe. Warna ini timbul karena terbentuknya furfural dan
hidroksi furfural sebagai senyawa derifat dari gula-gula (Sudarmadji, 2003).
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah
sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya
tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa
encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa,
D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk
enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi
fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami
dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam
suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih
stabil terhadap reaksi hidrolisis (Soeharsono,1978).
Monosakrida adalah karbohidrat yang tidak dapat
dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Monosakarida ini dapat
diklasifikasikan sebagai triosa, tetrosa, pentosa, heksosa, atau heptosa,
bergantung pada jumlah atom karbon; dan sebagai aldosa atau ketosa bergantung
pada gugus aldehida atau keton yang dimilki senyawa tersebut (Murray dkk,
2009).
Gliseraldehid adalah aldosa yang paling sederhana, dan
dihidroksiasetan adalah ketosa yang paling sederhana pula. Aldosa atau ketosa
lainnya dapat diturunkan dari gliseraldehida atau dihidroksiaseton dengan cara
menambahkan atom karbon, masing-masing membawa gugus hidroksil. Sebagian besar monosakarida
dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon.
Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atau cincin ini secara
terpisah atau sebagai gugus hidroksil (OH). Ada tiga jenis heksosa yang penting
dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga macam
monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom
karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada
cara penyusunan atom-atom hidrogen dan oksigen di sekitar atom-atom karbon.
Perbedaan dalam susunan atom inilah yang menyebabkan perbedaan dalam tingkat
kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga monosakarida tersebut (Almatsier,
2010).
Disakarida adalah produk kondensasi dua unit
monosakarida. Ada empat jenis disakarida yaitu sukrosa atau sakarosa, maltosa,
laktosa, dan trehalosa. Trehalosa tidak begitu penting dalam ilmu gizi. Kedua
monosakarida yang saling mengikat berupa ikatan glikosidik melalui satu atom
oksigen. Ikatan glikosidik ini biasanya terjadi antara atom C nomor 1 dengan
atom C nomor 4 dan membentuk ikatan alfa, dengan melepaskan satu molekul. Hanya
karbohidrat yang unit monosakaridanya terikat dalam bentuk alfa dapat
dicernakan. Disakarida dapat dipecah kembali menjadi dua molekul monosakarida
melalui hidrolisis. Glukosa terdapat pada empat jenis disakarida; monosakarida
lainnya adalah fruktosa dan galaktosa (Almatsier, 2010).
Polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim
tertentu yang kerjanya spesifik. Hidrolisis sebagian polisakarida menghasilkan
oligosakarida dan dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul
polisakarida (Sirajuddin dan Najamuddin, 2011).
Glikogen mempunyai struktur empiris yang serupa dengan
amilum pada tumbuhan. Pada proses hidrolisis, glikogen menghasilkan pula
glukosa karena baik amilum maupun glikogen, tersusun dari sejumlah satuan
glukosa. Glikogen dalam air akan membentuk koloid dan memberikan warna merah
dangan larutan iodium. Pembentukan glikogen dari glukosa dalam sel tubuh diatur
oleh hormon insulin dan prosesnya disebut glycogenesis. Sebaliknya, proses
hidrolisis glikogen menjadi glukosa disebut glycogenolisis (Sirajuddin dan
Najamuddin, 2011)
Bila tidak ada karbohidrat, asam amino dan gliserol
yang berasal dari lemak dapat diubah menjadi glukosa untuk keperluan energi
otak dan sistem saraf pusat. Oleh sebab itu, tidak ada ketentuan tentang
kebutuhan karbohidrat sehari untuk manusia. Untuk memelihara kesehatan, WHO
(1990) menganjurkan agar 50-65% konsumsi energi total berasal dari karbohidrat
kompleks dan paling banyak hanya 10% berasal dari gula sederhana (Almatsier,
2010).
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Alat Dan Bahan
Alat
Bahan
- Tabung
reaksi
- Pereaksi Mollish
- Penjepit tabung reaksi
- H2SO4 Pekat
- Rak tabung
reaksi
- Larutan Iodium
-
Pipet
tetes
- Pereaksi
Bennedict
-
Sikat tabung
reaksi
- Pereaksi Millon
-
Pengatur
waktu
- Larutan uji (Amilum, Sukrosa,
Laktosa, Malktosa, Fruktosa,
Glukosa,
Arabinosa)
3.2
Prosedur Kerja
A.
Uji Mollish
1.
Memasukkan
15 tetes larutan uji kedalam tabung reaksi.
2.
Menambahkan
3 tetes pereaksi Mollisch, dan mengaduk sampai homogen.
3.
Memiringkan
tabung reaksi, lalu mengalirkan dengan hati-hati 1ml H2SO4
pekat melalui dinding tabung agar tidak bercampur.
B.
Uji Iodium
1.
Memasukkan
3 tetes larutan uji kedalam tabung reaksi atau porselen tetes.
2.
Menambahkan
2 tetes larutan iodium.
3.
Mengamati
warna spesifik yang terbentuk.
C.
Uji Bennedict
1.
Memasukkan
5 tetes larutan tetes uji dan 15 tetes kedalam tabung reaksi.
2.
Mendidihkan
tabung tersebut selama 2 menit dengan api kecil atau 5 menit di dalam penangas
air.
3.
Mendinginkan
secara perlahan.
4.
Memperhatikan
warna atau endapan yang terbentuk.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. Uji
Mollisch
|
Bahan
|
Hasil
Uji Mollisch
|
Karbohidrat
( +/- )
|
|
Amilum
1%
|
Terbentuk
cincin berwarna biru.
|
+
|
|
Sukrosa
1%
|
Terbentuk
lapisan cincin berwarna ungu
|
+
|
|
Laktosa
1%
|
Terbentuk
lapisan cincin berwarna ungu
|
+
|
|
Maltosa
1%
|
Tidak
terbentuk cincin
|
-
|
|
Fruktosa
1%
|
Terbentuk
lapisan cincin berwarna ungu
|
+
|
|
Glukosa
1%
|
Terbentuk
lapisan cincin berwarna ungu
|
+
|
|
Arabinosa
%
|
Terbentuk
lapisan cincin berwarna ungu
|
+
|
B.
Uji Iodium
|
Bahan
|
Hasil
Uji Iodium
|
Karbohidrat
( +/- )
|
|
Amilum
1%
|
Kehitaman
|
-
|
|
Sukrosa
1%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
|
Laktosa
1%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
|
Maltosa
1%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
|
Fruktosa
1%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
|
Glukosa
1%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
|
Arabinosa
%
|
Berwarna
merah bata
|
+
|
C.
Uji Bennedict
|
Bahan
|
Hasil
Uji Bennedict
|
Karbohidrat
( +/- )
|
|
Amilum
1%
|
Tidak
berubah
|
-
|
|
Sukrosa
1%
|
Tidak
berubah
|
-
|
|
Laktosa
1%
|
Tidak
berubah
|
-
|
|
Maltosa
1%
|
Tidak
berubah
|
-
|
|
Fruktosa
1%
|
Berubah
menjadi merah bata
|
+
|
|
Glukosa
1%
|
Tidak
berubah
|
-
|
|
Arabinosa
%
|
Berwarna
biru
|
-
|
BAB
V
PEMBAHASAN
Pada
uji molichs ini kami mendapatkan hasil positif bahwa setiap larutan uji
terbentuk cincin berwarna ungu, kecuali pada larutan maltosa. Menurut
(Almatsier, 2010) prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa
karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa
hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa
fulfural. Uji positif akan timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi
antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan alpha-naftol dalam pereaksi
molish. Jika ditinjau dari literatur yang ada, semua bahan uji reaksi ini
seharusnya menghasilkan cincin berwarna ungu. Disini kemungkinan kami kurang
teliti pada pengamatan reaksi maltosa. Dari hasil percobaan ini, kami
mendapatkan hasil bahwa bahan uji tersebut mengandung karbohidrat.
Pada uji iodium ini kami mendapatkan hasil bahwa semua
hasil percobaan pada larutan uji menghasilkan merah bata, kecuali pada amilum.
Menurut (Almatsier, 2010) uji iodin digunakan untuk menunjukkan
adanya polisakarida. Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru.
Amilopektin dengan iodin akan memberi warna merah ungu sedangkan dengan
glikogen dan dekstrin akan membentuk warna merah coklat. Dari hasil percobaan
ini kami mendapatkan hasil bahwa larutan uji tersebut bukan merupakan polisakarida. Pada larutan amilum
karena berubah warna menjadi kehitaman. Amilum
termasuk polisakarida karena reaksi positif ditandai dengan perubahan warna
menjadi biru kehijauan, kuning atau merah bata.
Pada uji Benedict ini kami mendapatkan hasil bahwa semua
larutan uji tidak mengalami perubahan
warna kecuali pada larutan fruktosa, yaitu terjadi perubahan warna menjadi
warna merah bata. Menurut (Almatsier, 2010) merupakan uji umum untuk
karbohidrat yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas. Uji benedict
berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid
atau keton bebas dalam suasana alkalis. Biasanya ditambahkan zat pengompleks
seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3.
Uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan hijau, merah, orange atau
merah bata serta adanya endapan. Dari hasil ini, fruktosa mengandung gugus
aldehid atau keton bebas. Dan seharusnya
jika ditinjau dari literature, glukosa juga akan berubah warna pada percobaan
ini. Karena glukosa mengandung gugus aldehid atau keton bebas. Kemungkinan ini
disebabkan kurang telitinya kami ketika melakukan percobaan.
BAB
VI
PENUTUP
6.1
Kesimpulan
1. Semua
larutan uji tersebut yaitu, amilum, sukrosa, laktosa, froktosa, Glukosa, dan arabinosa positif mengandung karbohidrat.
2.
Monosakarida merupakan zat yang dapat mereduksi dikarenakan adanya gugus
karbonil yaitu gugus aldehida dan keton bebas. Sedangkan disakarida tidak dapat
mereduksi karena tidak memiliki gugus aldehida atau keton bebas.
3.
Polisakarida dapat dibuktikan dengan uji reaksi iodium yang ditandai dengan
perubahan warna larutan uji berubah warna menjadi biru kehijauan, kuning atau
merah bata.
6.2 Saran
1.
Dalam
proses percobaan sebaiknya praktikan diharapkan dapat menjaga ketertiban
didalam ruangan praktikum agar praktikum yang dilaksanakan dengan baik.
2.
Sebaiknya
alat-alat yang ada dilaboratorium, lebih dilengkapi lagi. Seperti alat
penangas, sehingga tidak perlu mengantri terlalu lama dalam melakukan
pemanasan.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier. S. 2010. Prinsip
Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Murray, R. K. dkk.
2009. Biokimia Harper. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sirajuddin, S dan Najamuddin, U.
2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Soeharsono, 1978. Petunjuk Praktikum Biokimia. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
JAWABAN PERTANYAAN
1. Mengapa uji molisch disebut uji yang bukan
spesifik untuk karbohidrat ?
Jawab :
Karena pereaksi Molish adalah α-naftol dalam alcohol 95%. Reaksi ini sangat
efektif untuk uji senyawa-senyawa yang dapat di dehidrasi oleh asam sulfat
pekat menjadi senyawa furfural atau furfural yang tersubtitusi. Seperti
hidroksimetilfurfural.
Warna merah ungu yang terasa disebabkan
oleh kondensasi furfural atatu turunannya dengan α-naftol.
2. Pada percobaan uji
benedict manakah yang menunjukkan hasil negatif ? mengapa ?
Jawab :
Pada percobaan uji benedict yang menunjukkan hasil negatif yaitu amilum,
sukrosa, laktosa, maltosa arabinosa. Mengapa ? Karena larutan tersebut bukan
termasuk gula pereduksi melainkan gula nonpereduksi sehingga mendapatkan
hasilnya negatif.
3. Jelaskan jenis uji
lain yang dapat digunakan untuk membuktikkan adanya gula pereduksi ?
Jawab :
Bahan lain yang dapat membuktikan adanya gula
pereduksi adalah uji fehling dan uji tollens karena, memiliki rasa manis,
sehingga sering disebut gula. Rasa manis dari gula disebabkan oleh gugus hidroksilnya. Sifat
mereduksi kedua pereaksi ini disebabkan adanya gugus aldehid atau keton bebas
dalam molekulnya.

Comments
Post a Comment